Penghusada Terapi Listrik
VIVAnews - Pengobatan alternatif tak jarang menawarkan metode penyembuhan yang membuat mata terbelalak. Mulai pengobatan dengan lintah, terapi bara api, pijat ular, hingga metode penyembutan yang mungkin hanya terjadi di Indonesia: terapi listrik di atas bantalan rel kereta.
Hampir setiap pagi dan sore, hingga Jumat 5 Agustus 2011, sejumlah warga berbaring di atas bantalan rel kereta listrik, tak jauh dari stasiun di kawasan Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat.
Dengan sensasi tubuh seperti tersengat listrik tegangan rendah, mereka percaya terapi semacam itu dapat meningkatkan vitalitas tubuh dan menyembuhkan berbagai penyakit seperti darah tinggi, stroke, diabetes, rematik, asam urat, obesitas dan kolesterol tinggi.
Sri Mulyati, pasien diabetes berusia 50 tahun, melirik terapi ini lantaran menyerah dengan pengobatan medis yang mahal. Ia yakin terapi ini manjur setelah mendengar seorang pria lumpuh yang sembuh setelah rutin berbaring di rel yang menyengatkan listrik bertegangan rendah itu. "Saya akan terus melakukannya sampai benar-benar sembuh," katanya.
Sri Mulyati dan sejumlah warga mengaku merasakan kondisinya lebih baik setelah rutin melakukan terapi itu. Tak harus mengeluarkan biaya mahal, mereka cukup membawa kain basah untuk meningkatkan tegangan listrik.
Sudah lebih setahun warga di kawasan itu asyik melakukan terapi tersebut. Tidak jelas siapa yang memulai. Jika Sri Mulyati mendengar kisah tentang pria lumpuh yang sembuh, sejumlah warga mendengar seorang pria stroke yang hendak bunuh diri sembuh dari penyakitnya berbaring di rel menunggu kereta yang tak kunjung lewat.
Sejumlah warga masih nekat menjalani terapi itu. Mereka tak menggubris ancaman bahaya tertabrak kereta. Mereka pun acuh dengan ancaman denda yang disampaikan aparat.
Kisah terapi di atas rel yang masih aktif itu sontak menjadi perbincangan dunia. Sejumlah media asing seperti Associated Press, BBC, Telegraph dan Al Jazeeramelaporkan, sejumlah pasien di Jakarta melakukan terapi yang tak biasa dan potensial . Sebagian menulis, terapi itu menjadi alternatif di tengah biaya pengobatan yang tak terjangkau.
Hampir setiap pagi dan sore, hingga Jumat 5 Agustus 2011, sejumlah warga berbaring di atas bantalan rel kereta listrik, tak jauh dari stasiun di kawasan Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat.
Dengan sensasi tubuh seperti tersengat listrik tegangan rendah, mereka percaya terapi semacam itu dapat meningkatkan vitalitas tubuh dan menyembuhkan berbagai penyakit seperti darah tinggi, stroke, diabetes, rematik, asam urat, obesitas dan kolesterol tinggi.
Sri Mulyati, pasien diabetes berusia 50 tahun, melirik terapi ini lantaran menyerah dengan pengobatan medis yang mahal. Ia yakin terapi ini manjur setelah mendengar seorang pria lumpuh yang sembuh setelah rutin berbaring di rel yang menyengatkan listrik bertegangan rendah itu. "Saya akan terus melakukannya sampai benar-benar sembuh," katanya.
Sri Mulyati dan sejumlah warga mengaku merasakan kondisinya lebih baik setelah rutin melakukan terapi itu. Tak harus mengeluarkan biaya mahal, mereka cukup membawa kain basah untuk meningkatkan tegangan listrik.
Sudah lebih setahun warga di kawasan itu asyik melakukan terapi tersebut. Tidak jelas siapa yang memulai. Jika Sri Mulyati mendengar kisah tentang pria lumpuh yang sembuh, sejumlah warga mendengar seorang pria stroke yang hendak bunuh diri sembuh dari penyakitnya berbaring di rel menunggu kereta yang tak kunjung lewat.
Sejumlah warga masih nekat menjalani terapi itu. Mereka tak menggubris ancaman bahaya tertabrak kereta. Mereka pun acuh dengan ancaman denda yang disampaikan aparat.
Kisah terapi di atas rel yang masih aktif itu sontak menjadi perbincangan dunia. Sejumlah media asing seperti Associated Press, BBC, Telegraph dan Al Jazeeramelaporkan, sejumlah pasien di Jakarta melakukan terapi yang tak biasa dan potensial . Sebagian menulis, terapi itu menjadi alternatif di tengah biaya pengobatan yang tak terjangkau.
Comments
Post a Comment